Zhao Yun, Si Anak Naga Dari Tiongkok - Kisahe

Saturday, January 26, 2019

Zhao Yun, Si Anak Naga Dari Tiongkok

Kisah semasa hidup zhao yun yang sebenarnya
(Illustration by feimo on DeviantArt)

Kisah Zhao Yun, Si Anak Naga ini sangat terkenal, sampai saat ini banyak sekali yang mengadaptasi kisahnya kedalam cerita, film, animasi, bahkan game. Ia muncul dalam serial game Dynasty Warriors, dan game-game lain yang mengadaptasi kisah pahlawan, seperti karakter Zilong pada game Mobile Legend. Nah kali ini Inspirasea.com akan mengulas sejarah dan kisah semasa hidupnya.

Sosok Seorang Zhao Yun


Zhao Yun atau juga dikenal dengan nama Zilong, adalah salah seorang Lima Jenderal Harimau dari negara Shu-Han pada masa Perang Tiga Negara (Sam Kok). Ia memiliki nama lengkap Zhao Zilong yang berarti "Anak Naga". Ia lahir di kota Zhending, provinsi Chang shan, pada tahun 168M. Zhao Yun sering kali digambarkan sebagai seorang pemuda tampan yang tenang, cerdas, dan tak kenal takut. Di usia mudanya ia sudah menjadi seorang jenderal militer yang handal dalam berperang. Sepanjang hidupnya, ia mengabdi kepada seorang kaisar sekaligus pendiri kerajaan Shu-Han yaitu Liu Bei.

Sebelum menjadi pengikut setia Liu Bei, perjalanannya cukup panjang. Awalnya Zhao Yun pernah melayani Yuan Shao, penguasa daerah utara Tiongkok. Namun akhirnya, Zhao Yun meninggalkannya karena ia menganggap Yuan Shao sangat ceroboh dalam mengurus rakyat dan tidak memiliki kesetiaan. Secara tidak sengaja, ia kemudian bertemu dengan Gongsun Zhan yang saat itu sedang berperang dengan Yuan Shao. Ia menyelamatkan Gongsung Zhan yang hendak dibunuh oleh salah satu jenderal Yuan Shao yang dikenal sangat garang bernama Wen Chou. Merasa sangat tertolong dan kagum melihat kehebatan Zhao Yun, Gongsun Zhan tidak ragu mengajak Zhao Yun bergabung dengannya.

Awal kehidupan


Awal karirnya bersama Gongsun Zhan, Ia menjadi seorang komandan pasukan kecil yang bersikan relawan dari pedesaan. Sedangkan Gongsun Zhan pada saat itu adalah seorang panglima perang yang menentang pemerintahan negara yang sedang dikuasai Dong Zhuo. Pada tahun 192M Liu Bei bersama kedua saudaranya, Guan Yu dan Zhang Fei bergabung dengan Gongsun Zan. Setelah bergabung, Liu Bei yang ditemani oleh Zhao Yun ditugaskan mempertahankan kota Ping Yuan. Karena terus bersama, mereka sering berbincang dan saling berbagi pengalaman. Dari situlah ikatan batin antara keduanya mulai terbentuk dan akhirnya mereka bersahabat.

Selang beberapa waktu, saudara Zhao Yun dikabarkan meninggal. Ia lalu meminta izin kepada Gongsun Zhan untuk menghadiri pemakaman saudaranya. Saat mendengar hal tersebut, Liu Bei menyadari jika Zhao Yun tidak akan kembali dan mengabdi lagi pada Gongsun Zan. Liu Bei cukup yakin karena sebelumnya Zhao Yun pernah berkata kalau dia telah salah menilai Gongsun Zhan, ia menganggap Gongsun Zhan tidak jauh berbeda dengan Yuan Shao. Karena tahu sahabatnya hendak pergi, Liu Bei datang menemui Zhao Yun. Mereka berdua saling memberi hormat satu sama lain diiringi dengan suasana perpisahan yang mengharukan.

Namun langit telah menentukan takdir mereka. Pada tahun 200M, Liu Bei gagal mempertahankan provinsi Xuzhou dari serangan Cao Cao. Liu Bei terpisah dari kedua saudara angkatnya. Akhirnya ia berlindung dikota Ye, yang merupakan wilayah kekuasaan Yuan Shao. Pada saat itulah Liu Bei bertemu kembali dengan Zhao Yun. Setelah pertemuan mereka berdua, Zhao Yun memutuskan untuk mengabdi pada Liu Bei. Diceritakan pada Roman "Kisah Tiga Negara" karya Luo Guanzhong, persahabatan keduanya sangat erat. Bahkan mereka pernah tidur di tenda yang sama dikota Ye disaat genting. Dan dikota itulah Liu Bei menugasi Zhao Yun untuk merekrut ratusan pasukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Yuan Shao.

Penaklukan bersama Liu Bei


Setelah terkumpulnya pasukan, mereka mulai bergerak. Zhao Yun terus mendampingi Liu Bei menaklukan bagian utara Cina. Pasukan Liu Bei sempat menduduki kota Runan, dan disitulah Liu Bei bertemu kembali dengan kedua saudaranya. Namun akhirnya, Cao Cao berhasil merebut kembali kota tersebut. Liu Bei dan pengikutnya lalu berlindung pada Liu Biao, gubernur provinsi Jing. Mereka berlindung di kota Xinye, awalnya Liu Biao menerima dengan senang hati, namun lama kelamaan Liu Biao merasa resah karena pengaruh politik Liu Bei dikota Xinye terlalu besar. 

Dengan maksud menjauhkan Liu Bei, akhirnya Liu Biao mengutus Liu Bei ke daerah Bowang dengan alasan untuk memperkuat pertahanan karena berbatasan dengan wilayah Cao Cao. Mendengar kabar tersebut, Cao Cao segera mengirim pasukan yang dipimpin oleh Xiahou Dun untuk menyerang Liu Bei, pertempuran ini dikenal dengan "Pertempuran Bowang". Namun rencana Cao Cao gagal karena Liu Bei sudah memprediksi dan menyiapkan strategi yang mantab. Dari pertempuran itu, salah seorang perwira pasukan Cao Cao bernama Xiahou Lan berhasil ditawan. Xiahou Lan ternyata berasal dari kampung yang sama dengan Zhao Yun. Karena itu Zhao Yun memohon pada Liu Bei untuk mengampuni Xiahou Lan.

Pada tahun 208M, Liu Biao meninggal dan posisinya digantikan oleh anak bungsunya bernama Liu Cong. Namun Liu Cong menyerah tanpa perlawanan pada Cao Cao, dan hal itu memaksa Liu Bei beserta seluruh pengikutnya mengungsi ke daerah Xiakou. Cao Cao tidak melepaskannya begitu saja, Ia mengirim prajurit untuk mengejar konvoi Liu Bei, dan berhasil menyergap pasukan Liu Bei di daerah Changban. Penyergapan ini menewaskan banyak pengikut Liu Bei dan menyebabkan kekacauan yang luar biasa. 

Di tengah kekacauan itu Zhao Yun menghilang, lalu seorang perwira melapor kepada Liu Bei kalau Zhao Yun telah menyerah kepada Cao Cao. Liu Bei sama sekali tidak percaya akan hal itu, Ia sangat yakin jika Zhao Yun tidak akan pernah berkhianat. Lain hal nya Liu Bei, adik angkatnya Zhang Fei langsung marah mendengar kabar tersebut. Ia segera membawa beberapa pasukan untuk mencari Zhao Yun.

Kepahlawanan dan Kesetiaan Zilong


Sebenarnya saat itu Zhao Yun pergi mencari kedua istri dan anak Liu Bei yang masih bayi bernama Liu Shan. Ia kehilangan mereka karena terus bertempur dari malam hingga pagi hari. Karena Liu Bei telah menugaskan Zhao Yun untuk melindungi istri dan anaknya, jadi tidak mungkin bagi Zhao Yun untuk kembali pada Liu Bei begitu saja. Ia memilih untuk berjuang mati-matian menorobos ribuan pasukan musuh untuk menyelamatkan mereka. Ia menemukan Lady Gan, istri pertama Liu Bei. Namun ternyata Lady Mi dan Liu Shan tidak ada disana, Ia segera kembali ke Changban untuk mengamankan Lady Gan. 

Zhang Fei yang berada di jembatan Changban sangat marah ketika melihat Zhao Yun datang kearahnya. Tanpa berbicara panjang Zhao Yun menitipkan Lady Gan dan berbalik arah untuk kembali mencari Lady Mi dan Liu Shan. Akhirnya, dengan beberapa petunjuk dari rakyat sipil, Zhao Yun berhasil menemukan mereka. Saat Zhao Yun hendak menyelamatkan mereka, Lady Mi menolak untuk ikut. Ia menyadari jika ia ikut serta nantinya hanya akan membebani Zhao Yun, mengingat jalur pelarian nya sangat berbahaya dan mereka sedang berada diwilayah musuh. 

Setelah menitipkan anaknya kepada Zhao Yun, Lady Mi melompat kedalam sumur untuk bunuh diri. Zhao Yun sangat kaget namun tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan perasaan yang campur aduk, Zhao Yun memacu kudanya ke arah Changban dengan membawa Liu Shan yang diikatkan ke baju zirahnya. Ia mempertaruhkan nyawanya dengan menembus barikade dan mengalahkan banyak pasukan Cao Cao seorang diri. Dengan ketangkasan seorang Zhao Yun, siapa pun yang menghalanginya akan dibunuh dengan tombaknya. Dia bahkan sempat merebut Pedang Pusaka Biru dari tangan Xiahou En, jenderal tinggi dari pasukan Cao Cao. Kagum dengan kehebatan Zhao Yun, Cao Cao memerintahkan untuk menangkapnya hidup-hidup.

Setelah itu Zhao Yun terus berusaha melarikan diri, dan akhirnya dia sampai di jembatan Changban dengan penuh luka dan berlumuran darah. Dibelakangnya masih banyak pasukan Cao Cao yang mengejar, Zhang Fei yang berada disana langsung membantu Zhao Yun. Setelah sampai di tempat aman, Zhao Yun langsung menghampiri Liu Bei dan menyerahkan Liu Shan. Ia berlutut sambil menangis, Liu Bei sangat terharu dengan keberanian Zhao Yun. Atas kesetiaannya, Zhao Yun dipromosikan sebagai salah satu jenderal utama pasukan Liu Bei.

Setelah Pertempuran Chibi (Battle of Red Cliff), Zhao Yun berperan penting dalam menaklukkan wilayah Jiangnan serta wilayah selatan. Zhao Yun diangkat menjadi mayor jenderal dan ditunjuk sebagai Grand Administrator Guiyang menggantikan Zhao Fan. Zhao Fan mencoba membujuk Zhao Yun untuk menikahi adik iparnya, Lady Fan. Diceritakan Lady Fan ini sangat cantik dan anggun, banyak orang yang juga mendukung pernikahan mereka. Namun Zhao Yun memiliki prasangka buruk pada niat Zhao Fan, Ia menolak pernikahan itu dengan jawaban "Kita memiliki nama keluarga yang sama, oleh karena itu saya menganggap kita saudara". Pada akhirnya ia tidak menikahi Lady Fan. Dan ternyata kekhawatirannya terbukti benar, Zhao Fan memang mempunyai niat buruk, setelah ketahuan ia kemudian melarikan diri dari Guiyang.

Ketika Liu Bei mulai memasuki provinsi Yi (Yizhou), Liu Bei menugasi Zhao Yun untuk mengawasi istri ketiganya Lady Sun. Lady Sun adalah adik dari Sun Quan, kaisar negara Dong-Wu. Liu Bei merasa khawatir karena Lady Sun bersama milisi bawahannya sering bertindak liar dan melanggar banyak peraturan. Liu Bei mempercayakan Zhao Yun untuk mengontrol dan menjaga ketertiban basis pertahanannya di Gong'an, sehingga ia menunjuk Zhao Yun sebagai perwira utama. Segera setelah Liu Bei meninggalkan provinsi Jing, Sun Quan diam-diam memanggil adiknya kembali. Lady Sun berencana membawa Liu Shan bersamanya, untungnya Zhao Yun dan Zhang Fei berhasil menghentikannya di Sungai Yangtze dan menyelamatkan Liu Shan.

Pada tahun 214 M, Liu Bei memanggil Zhao Yun bersama dengan Zhuge Liang dan Zhang Fei ke Yizhou. Dari Jiangzhou, Zhao Yun memimpin pasukan terpisah dan menaklukkan Jiangyang, Jianwei, dan kemudian bergabung kembali dengan yang lainnya di Chengdu. Liu Bei akhirnya mengklaim Yizhou sebagai wilayahnya. Pada waktu itu, beberapa orang menyarankan Liu Bei menghadiahkan pemukiman untuk para jenderal yang ikut berperang. Ini bertujuan untuk menghargai jasa meraka dan agar mereka bisa hidup damai di tanah yang mereka miliki secara pribadi.

Namun Zhao Yun menentang gagasan tersebut. Ia berpendapat, "Kita tidak boleh puas dengan pencapaian ini, kita harus menyatukan seluruh negara terlebih dahulu jika ingin hidup damai. Dan kita bisa kembali ke kampung halaman masing-masing untuk mengolah tanah kita sendiri". Ia juga memikirkan nasib para penduduk Yizhou, mereka telah banyak menderita karena perang. Sehingga Zhao Yun menyarankan untuk mengembalikan tanah itu kepada rakyat Yizhou, agar mereka bisa lebih bersyukur. Hanya dengan cara itulah Liu Bei bisa merangkul rakyat Yizhou untuk mendukung ambisinya. Liu Bei lagi lagi menerima nasihat dari Zhao Yun.

Jenderal dengan Keberanian Harimau


Pada tahun 219M, Liu Bei dan Cao Cao bertempur memperebutkan Hanzhong. Zhao Yun memperoleh infomasi bahwa Cao Cao memiliki persediaan pangan yang ditempatkan di dekat Gunung Utara, Ia lalu mengirim salah satu Jenderal Harimau yang bernama Huang Zhong untuk merebut persediaan tersebut. Setelah dikirim, Huang Zhong tak kunjung kembali. Zhao Yun memutuskan menjemputnya dengan beberapa pasukan, dan ternyata pasukan penjaga Cao Cao sudah berbaris menunggu kedatangan Zhao Yun. Tanpa pikir panjang, Ia dan pasukannya langsung menyerang pasukan tersebut. Tidak lama setelah itu, pasukan utama Cao Cao yang sedang dalam perjalanan tiba kesana dan menyebabkan situasi berbalik.

Zhao Yun sempat mencerai berai gabungan pasukan musuh. Namun jumlah mereka terlalu banyak dan terus mengepung Zhao Yun. Zhao Yun memutuskan untuk menarik mundur pasukannya menuju kamp pertahanan. Ia juga sempat kembali lagi untuk menyelamatkan letnan jenderal Zhang Zhu yang tertinggal dibelakang dan sedang terluka. Pasukan Cao Cao terus mengejar Zhao Yun hingga ke kampnya. Administrator Mianyang bernama Zhang Yi memerintahkan menutup semua jalur masuk untuk mempertahankan kamp. Namun, saat Zhao Yun memasuki camp ia berkata sebaliknya. Ia memerintahkan untuk menurunkan semua bendera, dan membungkan semua drum perang, serta membiarkan gerbang terbuka sepenuhnya.

Melihat hal tersebut, pasukan Cao Cao merasa curiga kalau mereka akan disergap, sehingga mereka memutuskan untuk mundur karena panik. Saat pasukan Cao Cao mundur, Zhao Yun memerintahkan untuk membunyikan drum sekeras kerasnya, dan menyerang pasukan Cao Cao dengan panah. Pasukan musuh tercengang dan bingung, mereka mencoba melarikan diri menuju Sungai Han, Zhao Yun memanfaatkan kepanikan mereka dan mendorong mereka ke sungai Han hingga tenggelam. Sehari setelah pertempuran, Liu Bei datang untuk memeriksa medan perang. Dia berseru, "Zilong has valor through and through." yang berarti Zilong memiliki keberanian yang luar biasa. Untuk menghormati jasa Zhao Yun, Liu Bei mengadakan perjamuan besar malam itu. Sejak saat itu, pasukan Liu Bei memanggil Zhao Yun "Jenderal Huwei", yang berarti Jenderal dengan Keberanian Harimau.

Akhir perjalanan si Anak Naga


Pada tahun 221M, Liu Bei memproklamirkan diri sebagai Kaisar Shu-Han. Pada saat yang sama ia menyatakan perang terhadap Sun Quan untuk membalas dendam atas kematian Guan Yu dan terebutnya provinsi Jing. Zhao Yun berupaya untuk membujuk Liu Bei agar membatalkan perang, dan menyarankan untuk menyerang negara Cao-Wei terlebih dahulu. Karena menurut Zhao Yun, musuh yang sebenarnya adalah Cao-Wei. Zhao Yun berspekulasi jika mereka mengalahkan Cao-Wei, Sun Quan akan menghormati keagungan Liu Bei, dan seluruh pasukan pemberani dari Guangdong akan bersukarela mendukung mereka. Sedangkan jika menyerang Dong-Wu dan meninggalkan Cao-Wei tidak tersentuh hanya akan menguntungkan pihak musuh.

Namun Liu Bei menolak nasihat Zhao Yun dan memulai peperangan melawan negara Dong-Wu. Dia meninggalkan Zhao Yun di garis belakang untuk menjadi komandan Jiangzhou. Setelah itu, Liu Bei akhirnya dikalahkan dalam
Pertempuran Yiling. Zhao Yun dan pasukannya maju ke Yong'an, tetapi pada saat itu pasukan Wu telah mundur. Liu Bei meninggal pada tahun 223M, dan digantikan putranya Liu Shan sebagai penerus tahta. Ditahun yang sama, Zhao Yun disebut sebagai Jenderal Zheng Nan (Jenderal yang menaklukan Wilayah Selatan). Dia juga menjadi Komandan Militer Pusat serta dianugerahi gelar Marquis Yongchang Ting. Tak lama kemudian, ia dipromosikan sebagai Jenderal Zhen Dong (Jenderal yang menjaga Wilayah Timur).

Pada tahun 227M, Zhao Yun mengikuti Zhuge Liang ke Hanzhong untuk mempersiapkan ekspedisi pertama ke wilayah utara. Tahun berikutnya, Zhuge Liang mengirim Zhao Yun ke Jigu sebagai umpan untuk melawan pasukan utama Cao-Wei yang dipimpin oleh Cao Zhen. Pasukan utama Zhuge Liang mengalami kekalahan dalam Pertempuran Jieting. Pada saat yang sama, Zhao Yun juga tidak berhasil mengalahkan pasukan musuh yang jauh lebih unggul. Namun setidaknya, ia dapat meminimalisasi kerugian dan mempertahankan posisinya sekuat tenaga.

Pada tahun 229M, Zhao Yun wafat di Hanzhong. Kematiannya ditangisi seluruh prajurit dan perwira negara Shu-Han, karena dia adalah simbol kekuatan yang tersisa dari Lima Jenderal Harimau. Ia dianugerahi gelar Shunping Marquis oleh Liu Shan atas jasa-jasanya. Zhao Yun mempunyai dua anak laki-laki, Zhao Tong dan Zhao Guang. Si anak bungsu adalah seorang bawahan dari Jiang Wei, dan meninggal dalam pertempuran di Tazhong. Catatan sejarah Zhao Yun sangatlah sedikit sehingga tidak banyak fakta mendetail mengenai perjalanan hidupnya. - © Inspirasea.com.

  • Kisah Zhao Yun dari Three Kingdom
  • Sejarah Zhao Yun pada game Dynasty Warrior
  • Cerita asli Zilong Mobile Legends
Comments


EmoticonEmoticon