(Illustration by TimothyKong on Imgur)
Spartacus, mendengar nama ini mungkin sebagian dari kalian tidak asing lagi. Ya, Spartacus yang di angkat kisah nya melalui film seri garapan Starz yang juga berjudul Spartacus. Diyakini kisah Spartacus ini adalah kisah nyata, namun tidak ada sejarah yang cukup akurat menceritakan kisah sesungguhnya, sehingga catatan sejarah hidupnya kadang-kadang kontradiktif dan mungkin tidak selalu dapat dipercaya. Terlepas dari itu, dia adalah sosok legendaris yang mengukir sejarah dengan memimpin pemberontakan yang terbesar di dunia.
Sosok seorang Spartacus
Spartacus adalah seorang gladiator yang memimpin pasukan budak untuk memberontak dan memerangi Kekaisaran Roma. Walau belum ada kepastian tentang motifnya, namun banyak yang meyakini ia melakukannya demi memperjuangkan kemerdekaan para budak yang ditindas bangsa Romawi. Tentu saja ia tidak sendirian, ia dibantu oleh banyak gladiator gladiator hebat seperti Crixus, Gannicus, Castus, dan Oenomaus.
Sosok pemberani seorang Spartacus mampu merombak kemegahan kekaisaran Romawi yang bertabur dahaga kekuasaan dalam tameng-tameng politik. Disaat para budak lain pasrah dengan nasib mereka, Spartacus berpikir keras menyusun berbagai rencana dan strategi untuk menjatuhkan Roma. Walau ia tak dibesarkan dalam lingkungan pendidikan yang layak, pemikirannya patut diacungi jempol. Ia tak mengenal rasa takut dalam memperjuangkan keadilan bagi kaum tertindas. Meski bermandikan darah semangatnya untuk memperjuangkan keadilan tak pernah surut.
Menurut para sejarahwan romawi kuno, Spartacus adalah seorang Thracian (suku indo-eropa yang bermukim di eropa selatan yang sekarang dikenal dengan Bulgaria). Plutarch, menceritakan Spartacus sebagai seorang Thracian yang nomaden, alias hidup berpindah-pindah tempat demi mencari makan. Sependapat dengan Plutarch, Appian mengatakan Spartacus adalah seorang Thracian yang pernah bertugas sebagai prajurit di Roma, namun entah kenapa ia akhirnya ditahan, kebebasannya direnggut dengan dijadikan budak dan dikirim ke ludus (tempat pelatihan gladiator) milik seorang lanista bernama Lentulus Batiatus di Capua.
Gladiator terhebat di Capua
Spartacus ditempa habis habisan menjadi gladiator yang hebat. Batiatus memanfaatkan kehebatannya untuk mengumpulkan pundi pundi kekayaan lewat aksinya di arena. Arena atau Colloseum adalah tempat bertarungnya para gladiator demi nyawa mereka. Gladiator sendiri terdiri dari tawanan perang yang dijual sebagai budak, dengan kata lain semua gladiator adalah budak. Mereka dilatih untuk bertarung demi memperoleh hak dan kebebasan. Tak hanya itu, nyawa mereka diperjualbelikan demi perjudian para politikus Roma, sehingga mereka berlomba lomba melatih budak untuk diadu di arena. Suka atau tidak, seorang gladiator harus membunuh, di bawah sorak-sorai jutaan mata yang menonton.
Masyarakat romawi pada zaman itu sangat menyukai pertumpahan darah para gladiator di arena. Pembunuhan, pembantaian, dan penyiksaan yang terjadi membakar semangat para penonton, mereka bersorak sorai mendukung gladiator yang hebat membantai musuhnya. Hal tersebut dijadikan games oleh masyarakat romawi, sehingga disetiap festival atau perayaan besar selalu diiringi dengan pertunjukan para gladiator di arena.
Aksi Spartacus di arena sangat memukau, ia berhasil mengalahkan berbagai macam musuh bahkan beberapa diantaranya dikenal tak terkalahkan, ia menjadi penguasa arena di capua dan banyak yang memujanya, namun bukan inilah yang benar benar diingikan Spartacus, bukan harta dan ketenaran yang ia dambakan, melainkan hanya kedamaian kecil bersama istrinya dan juga harga diri sebagai seorang manusia yang merdeka. Kemungkinan besar Spartacus bukanlah nama aslinya, tapi hanya julukannya di arena, terlepas dari itu nama inilah yang membuatnya terkenal hingga saat ini.
Pemberontakan terbesar sepanjang sejarah
Pada tahun 73 SM Spartacus mulai menjalankan rencananya, lewat strategi matang dari pemikiran briliannya. Capua akhirnya diserang para gladiator dimulai dari pembebasan diri nya bersama kurang lebih 70 orang budak dari ludus Batiatus. Lalu mereka menjarah wilayah di sekitar Capua, menyita beberapa gerobak senjata gladiator dan perlengkapan perang lainnya, mereka juga berhasil mengalahkan pasukan pasukan kecil yang dikirim untuk membunuh mereka.
Rencana nya masih berlanjut. Peristiwa ini disebut peristiwa holocaust, ketika para politikus berleha-leha dalam pesta pora, mereka dibantai habis habisan. Tepuk riang dan sorak sorai di Arena berubah menjadi tangisan yang membahana menghiasi langit kota Roma yang megah itu. Semenjak kemunculan Spartacus, se antero Roma merasakan ketakutan yang mendalam, kuburan Roma pun gemetar. Bahkan, kematian seakan melolong, meminta agar Spartacus menghentikan pembantaian itu. Tapi, hal ini tak menggoyahkan tekad seorang Spartacus.
Pembantaian terus dilakukannya. Satu per satu politikus bejat dihabisi. Semakin hari jumlah pengikutnya semakin bertambah, kota demi kota ia serang untuk membebaskan para budak lainnya, beberapa dari mereka yang bisa bertempur direkrut ke dalam barisan mereka. Semua orang berjuang mati-matian demi kemerdekaan yang mereka impikan, lalu akhirnya mereka semua beristirahat di Gunung Vesuvius.
Respon dari Romawi terhambat karena sebagian besar legiun Romawi sudah terlibat pertempuran dengan Quintus Sertorius di Spanyol dan Perang Mithridatic Ketiga. Romawi menganggap pemberontakan lebih merupakan masalah keamanan daripada sebuah perang, akhirnya Romawi mengutus pasukan di bawah komando praetor Gaius Claudius Glaber mengepung pasukan Spartacus di Gunung Vesuvius.
Karena tidak ada jalan keluar lain dari Gunung Vesuvius, Glaber yakin bahwa kelaparan akan memaksa para budak untuk menyerah. Glaber terkejut ketika Spartacus tiba-tiba menyergap campnya saat pasukannya sedang lenggang dan membunuh sebagian besar dari mereka. Ternyata Spartacus tidak kehabisan akal, ia mengumpulkan tanaman merambat di sekitar gunung, menyambungnya menjadi tali lalu menuruni sisi tebing gunung bersama anak buahnya, dan menyergap camp Glaber dari belakang. Dengan keberhasilan ini, lebih banyak budak yang berbondong-bondong bergabung ke pasukan Spartacus seperti halnya "gembala" dari wilayah tersebut, menjadikan barisan mereka berjumlah 70.000 orang.
Mereka menghabiskan musim dingin tahun 73-72 SM untuk pelatihan perang, mempersenjatai anggota baru, dan memperluas wilayah rampokan mereka termasuk kota-kota dari Nola, Nuceria, Thurii dan Metapontum. Jarak antara lokasi tersebut dengan peristiwa-peristiwa berikutnya menunjukkan bahwa para budak beroperasi dalam dua kelompok berbeda yang dikomandoi oleh Spartacus dan Crixus. Pada musim semi tahun 72 SM, mereka mulai bergerak ke utara. Mendengar hal itu, Senat Romawi merasa khawatir dengan kekalahan Glaber, ia mengutus sepasang legiun konsuler di bawah komando Lucius Gellius Publicola dan Gnaeus Cornelius Lentulus Clodianus. Dua legiun tersebut pada awalnya berhasil mengalahkan 30.000 budak yang dipimpin oleh Crixus di dekat Gunung Garganus, namun kemudian keduanya dikalahkan oleh pasukan Spartacus.
Khawatir dengan pemberontakan yang tampaknya tak terbendung, Senat menggugat Marcus Licinius Crassus, orang terkaya di Romawi dan satu-satunya relawan yang mau melawan Spartacus. Crassus membawa sekitar 8 legiun Romawi yang terlatih (40.000-50.000 tentara). Spartacus dan para pengikutnya dengan alasan yang tidak jelas mundur ke selatan Italia, kembali bergerak ke utara di awal 71 SM, Crassus mengerahkan enam pasukannya di perbatasan daerah dan melepaskan legasinya, Mummius bersama dua legiun untuk memanuver di belakang Spartacus. Meskipun diperintahkan untuk tidak melibatkan budak, Mummius menyerang pada saat yang tepat namun terarah. Setelah itu, legiun Crassus memenangkan beberapa pertempuran, memaksa Spartacus menjauh ke selatan melalui Lucania. Pada akhir 71 SM, Spartacus berkemah di Rhegium (Reggio Calabria), dekat Selat Messina.
Menurut Plutarch, Spartacus sempat membuat perjanjian dengan Bajak Laut Cilicia untuk mengangkut ia dan sekitar 2.000 anak buahnya ke Sisilia, dia bermaksud membangun kembali kekuatan pasukannya. Namun ia dikhianati oleh para bajak laut, mereka mengambil pembayarannya tapi pasukan Spartacus ditinggalkan. Ada beberapa upaya para pemberontak membangun rakitan dan galangan kapal untuk melarikan diri, tetapi Crassus dengan pasukannya memastikan mereka tidak bisa menyeberang ke Sisilia. Pasukan Spartacus akhirnya mundur ke arah Rhegium. Legiun Crassus terus mengejar, pada saat kedatangan mereka dibangun benteng di tanah genting di Rhegium, meskipun pasukan Spartacus terus melancarkan serangan. Namun akhirnya mereka dikepung dan tak punya pasokan makanan.
Legiun Pompey yang baru kembali dari Spanyol diperintahkan oleh Senat untuk membantu Crassus. Crassus merasa cemas kedatangan Pompey akan mempengaruhi kreditabilitasnya mengalahkan Spartacus, akhirnya Spartacus dan Crassus bertemu untuk membuat sebuah kesepakatan, namun kesepakatan tersebut gagal. Sebagian pasukan Spartacus kabur ke pegunungan di barat Petelia di Bruttium, lalu legiun Crassus mengejar mereka. Ketika legiun berhasil menangkapnya, mereka dipisahkan dari tentara utama, pasukan Spartacus yang tinggal sedikit menyerang legiun yang mendekat.
Spartacus mengumpulkan seluruh pasukannya yang tersisa untuk menyerang legiun dalam perjuangan terakhir, perang antara legiun romawi dan para pemberontak terjadi cukup lama, semua budak berjuang habis habisan demi kemerdekaan yang mereka impikan. Namun akhirnya sebagian besar dari mereka terbunuh di medan perang dan sisanya ditawan. Spartacus juga terbunuh dalam pertempuran tersebut namun jasadnya tak pernah ditemukan. Enam ribu tawanan yang selamat dari perang, disalib satu per satu berjajar di sepanjang Jalan Appia dari Roma ke Capua.
Itulah sedikit penggalan riwayat hidup dari Spartacus, seorang pria pemberani yang tak kenal rasa takut dalam memperjuangkan keadilan bagi kaum tertindas. Meski bermandikan darah semangatnya tak pernah surut. Itulah sebabnya, mengapa keberaniannya terus dikenang hingga saat ini. - © Inspirasea.com.
- Kisah Spartacus sang gladiator pemberontak
- Sejarah Spartacus sang penghancur romawi kuno
- Perjalanan hidup seorang Spartacus