(Illustration by metinaktuna on Pinterest)
Seharusnya sudah tidak asing lagi bagi para penikmat konten sejarah saat mendengar nama Mehmed II. Selain fakta bahwa dirinya adalah salah satu sultan paling terkenal dari Kerajaan Ottoman, ia juga telah menorehkan pencapaian yang luar biasa lewat penaklukan Konstantinopel. Sehingga namanya pun banyak disanjung, dan bahkan kisahnya diadaptasi pada film layar lebar berjudul “Fetih 1453”. Kali ini Inspirasea.com akan sedikit mengulas perjalanan semasa hidupnya.
Sosok Mehmed II dan Awal Kehidupannya
Mehmed II, juga dikenal secara luas dengan Sultan Muhammad Al-Fatih adalah seroang sultan yang memimpin Kerajaan Ottoman (Kesultanan Utsmaniyah, yang sekarang kita kenal dengan Turki) pada tahun 1444-1446 dan 1451-1481. Ia dijuluki Al-Fatih (Sang Penakluk) atas pencapaiannya dalam penaklukan Konstantinopel (Istanbul). Sekaligus mengakhiri riwayat Kekaisaran Byzantium (Kekaisaran Romawi Timur).
Mehmed lahir pada 30 Maret 1342 di Edirne, ibukota Kerajaan Ottoman pada masa itu. Ia adalah putra keempat dari Sultan Murad II yang merupakan raja ke-6 Kerajaan Ottoman. Ibunya adalah seorang selir yang bernama Hüma Hatun. Ahli sejarah menceritakannya sebagai pria yang tinggi dan kuat. Seorang negarawan dan pemimpin militer yang kompeten. Ia juga memiliki ketertarikan pada seni, literatur, filsafat dan sains. Ia juga bisa menguasai 7 bahasa dengan sangat lancar.
Sultan Murad II sangat memperhatikan pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Di usianya yang masih baru menginjak dua belas tahun, Mehmed dikirim ke Magnesia bersama dua orang pembimbing. Pada tahun yang sama ayahnya mengangkat Mehmed menjadi Sultan dan kemudian beliau turun tahta. Selama masa pemerintahannya yang pertama itu, Mehmed harus menghadapi krisis eksternal dan internal yang serius. Semua pihak termasuk Raja Hongaria, Paus, Kekaisaran Byzantium, Venesia memanfaatkan momen ini untuk merencanakan Perang Salib baru.
Pertempuran Varna
Pada bulan September 1444 pasukan Tentara Salib menyeberangi Danube. Setelah mendengar berita ini, Mehmed II menyadari bahwa ia masih terlalu muda dan tidak berpengalaman untuk mengalahkan koalisi ini. Ketika Tentara Salib telah mengepung Varna, Sultand Murad II yang sudah pensiun didesak untuk memimpin kembali pasukan. Awalnya ia menolak, ia kemudian sepakat setelah menerima surat dari anaknya yang berisi "Jika kamu adalah Sultan, datang dan pimpin pasukanmu. Jika saya adalah Sultan, dengan ini saya memerintahkan kamu untuk datang dan memimpin pasukanku." Tentara Ottoman di bawah kepemimpinan Sultan Murad II berhasil mengalahkan pasukan gabungan Hongaria-Polandia dan Wallachia.
Kemenangan Sultan Murad II atas Tentara Salib mengakhiri krisis yang terjadi. Namun setelah krisis tersebut berlalu, seorang wazir agung bernama Çandarlı Halil mencari cara agar sultan Murad II mau menaiki tahtanya kembali. Akhirnya ia merekayasa sebuah pemberontakan yang dilakukan oleh pasukan khusus kerajaan ottoman sendiri yang disebut Jannisari. Rencana tersebut berjalan dengan lancar dan Sultan Murad II kembali naik tahta. Ia kemudian mengirim lagi anaknya Mehmed II ke Magnesia. Kali ini Mehmed ditemani oleh Zaganos dan Şihâbeddin sebagai pembimbingnya. Disana Mehmed berusaha untuk membuktikan bahwa dirinya layak menjadi seorang sultan.
Setelah kematian ayahnya Mehmed II kembali naik tahta. Ia sangat berambisi untuk menaklukan Konstantinopel. Ia menyusun rencananya dengan matang, dimulai dengan melakukan persiapan diplomatik dan militer untuk mencegah Hongaria dan Venesia ikut campur. Lalu membangun benteng Boğazkesen untuk memblokade jalur perdagangan di selat Bosporus yang menghubungakan Turki bagian asia dan eropa. Membangun 31 armada kapal perang, dan meminta seorang pembuat meriam terkenal bernama Urban untuk membuat sebuah meriam tipe baru yang sangat besar.
Awalnya pihak Eropa dan Byzantium meremehkannya karena ia sempat gagal dalam menduduki tahta. Bahkan beberapa penasihat militernya masih belum percaya akan kemampuan sultan muda tersebut. Apalagi, Konstantinopel terkenal sulit ditaklukkan. Kota itu dikelilingi tembok pertahanan kuat. Untuk mengisolasinya juga sulit, kecuali melalui jalur laut. Sedangkan jalur laut telah dipagari dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Byzantium tanpa melintasi rantai tersebut.
Sehari sebelum memulai serangan, Mehmed II berpidato dengan menyerukan kepada pasukannya bahwa mereka tengah menjalankan perang suci, dengan cara ini ia sanggup membangkitkan semangat dan moral pasukannya. Bulan April 1453, pasukan Ottoman memulai serangan besar-besaran. Meski terus menerus dibombardir, warga kota Konstantinopel tetap bisa bertahan. Pengepungan yang berlangsung sekitar 50 hari itu menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan kedua belah pihak. 4 juta prajurit Ottoman yang dikerahkan lewat jalur darat berhasil dipukul mundur oleh pasukan bertahan Byzantium. Banyak pasukan Ottoman yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut.
Kemenangan Sultan Murad II atas Tentara Salib mengakhiri krisis yang terjadi. Namun setelah krisis tersebut berlalu, seorang wazir agung bernama Çandarlı Halil mencari cara agar sultan Murad II mau menaiki tahtanya kembali. Akhirnya ia merekayasa sebuah pemberontakan yang dilakukan oleh pasukan khusus kerajaan ottoman sendiri yang disebut Jannisari. Rencana tersebut berjalan dengan lancar dan Sultan Murad II kembali naik tahta. Ia kemudian mengirim lagi anaknya Mehmed II ke Magnesia. Kali ini Mehmed ditemani oleh Zaganos dan Şihâbeddin sebagai pembimbingnya. Disana Mehmed berusaha untuk membuktikan bahwa dirinya layak menjadi seorang sultan.
Penaklukan Konstantinopel
Setelah kematian ayahnya Mehmed II kembali naik tahta. Ia sangat berambisi untuk menaklukan Konstantinopel. Ia menyusun rencananya dengan matang, dimulai dengan melakukan persiapan diplomatik dan militer untuk mencegah Hongaria dan Venesia ikut campur. Lalu membangun benteng Boğazkesen untuk memblokade jalur perdagangan di selat Bosporus yang menghubungakan Turki bagian asia dan eropa. Membangun 31 armada kapal perang, dan meminta seorang pembuat meriam terkenal bernama Urban untuk membuat sebuah meriam tipe baru yang sangat besar.
Awalnya pihak Eropa dan Byzantium meremehkannya karena ia sempat gagal dalam menduduki tahta. Bahkan beberapa penasihat militernya masih belum percaya akan kemampuan sultan muda tersebut. Apalagi, Konstantinopel terkenal sulit ditaklukkan. Kota itu dikelilingi tembok pertahanan kuat. Untuk mengisolasinya juga sulit, kecuali melalui jalur laut. Sedangkan jalur laut telah dipagari dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Byzantium tanpa melintasi rantai tersebut.
Sehari sebelum memulai serangan, Mehmed II berpidato dengan menyerukan kepada pasukannya bahwa mereka tengah menjalankan perang suci, dengan cara ini ia sanggup membangkitkan semangat dan moral pasukannya. Bulan April 1453, pasukan Ottoman memulai serangan besar-besaran. Meski terus menerus dibombardir, warga kota Konstantinopel tetap bisa bertahan. Pengepungan yang berlangsung sekitar 50 hari itu menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan kedua belah pihak. 4 juta prajurit Ottoman yang dikerahkan lewat jalur darat berhasil dipukul mundur oleh pasukan bertahan Byzantium. Banyak pasukan Ottoman yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut.
Serangan terakhir
Akhirnya Sultan Mehmed II menemukan ide cemerlang. Satu-satunya cara yang harus dilakukan untuk menaklukan Konstantinopel adalah dengan menembus jalur laut. Ia dan pasukannya menyebrangkan 70 kapal mereka lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar. Mereka melintasi Galata dengan menebangi pohon-pohon tersebut menuju ke muara dan meluncurkan kembali kapal mereka di Tanduk Emas. Hal itu dilakukan dengan cepat tidak sampai satu malam. Sebenarnya ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Byzantium di abad ke-10. Namun mereka tidak terlalu cepat dan akhirnya dikalahkan oleh orang-orang Byzantium Romawi.
Pasukan Byzantium dikejutkan dengan munculnya pasukan Ottoman diperairan Tanduk Emas, dan peperangan mati-matian pun terjadi. Pada tanggal 29 Mei 1453 M, Sultan Mehmed akhirnya berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Pasukan Kristen Kerajaan Ottoman menyerang pertama kali diikuti oleh gelombang serangan berturut-turut pasukan yang miskin pelatihan dan perlengkapan, serta pasukan Anatolia yang berfokus pada bagian dinding Blachernai di barat laut kota, yang telah rusak oleh meriam.
Meski sempat dipukul mundur, pasukan Ottoman kembali mengendalikan jalannya perang lewat serangan mematikan dari pasukan elit Jannisari. Jenderal Genoa, Giovanni Giustiniani, terluka parah selama penyerangan. Mereka memutuskan mundur, namun akhirnya Giustiniani meninggal beberapa hari kemudian karena luka-lukanya. Dengan mundurnya pasukan Genoa, Konstantinus IX dan pasukannya harus berjuang sendirian. Mereka terus bertempur dan mampu menahan pasukan Jannisari untuk sementara. Ketika bendera Ottoman dikibarkan, kepanikan pasukan bertahan semakin menjadi, dan pertahanan mereka pun akhirnya runtuh.
Tentara Jannisari yang dipimpin Ulubatlı Hasan terus menekan. Sisa-sisa tentara Yunani, Venesia dan Genoa melarikan diri. Beberapa dari mereka bunuh diri dengan melompat dari dinding kota atau menyerah. Disebutkan bahwa Konstantinus, melepaskan regalia ungunya, memimpin serangan terakhir dan meninggal dalam pertempuran. Namun di pihak lain, Nicolò Barbaro, mengatakan di bukunya bahwa Konstantinus gantung diri ketika Ottoman menembus gerbang San Romano.
Kejayaan yang dicapai pada masanya
Kerajaan besar yang berumur 11 abad itu akhirnya jatuh ke tangan pasukan Ottoman. Setelah memasuki kota Konstantinopel, Mehmed II turun dari kudanya lalu bersujud sebagai tanda syukur. Kemudian, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Selama menduduki kota tersebut, Mehmed II memperlakukan warga sebelumnya dengan baik dan tidak semena-mena. Ia berusaha mengembalikan fungsi bangunan yang rusak karena perang dan juga mendirikan rumah tempat tinggal layak huni.
Untuk menjalankan roda kegiatan sehari-hari, Sultan menunjuk salah seorang tokoh masyarakat setempat sebagai walikota. Hal tersebut berlaku sampai kemudian Sultan memperbarui sistem pemerintahan di kota itu. Konstantinopel diganti namanya menjadi Islambul (Negri Islam) dan ditetapkan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Ottoman. Pada saat inilah Mehmed II mulai menyandang gelar sebagai "Sultan Muhammad al-Fatih" yang berarti Sang Penakluk.
Setelah itu rentetan penaklukkan strategis dilakukan oleh Sultan Mehmed II. Ia membawa pasukannya menkalukkan wilayah Balkan, yaitu Albania, Serbia, Hongaria, Yunani, dll. Menaklukan tepi laut hitam dengan menduduki Trebizond dan Gazaria. Menguasai Wallachia dan masih banyak lagi. Bahkan ia telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia.
Wafatnya sang penakluk
Pada tahun 1481M, Sultan Mehmed II pergi dari Istanbul untuk berperang walaupun sedang dalam kondisi tidak sehat. Di tengah perjalanan, sakit yang ia derita kian parah. Dokter pun didatangkan untuk mengobatinya, namun tidak ada yang dapat menolongnya. Ia pun wafat di tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 3 Mei 1481 M. Saat itu Sultan Muhammad berusia 52 tahun dan memerintah selama 31 tahun. Ada yang mengatakan wafatnya Sultan Mehmed II karena diracuni oleh dokter pribadinya Ya’qub Basya. Namun tidak ada yang tau pasti apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak ada keterangan yang bisa dijadikan sandaran kemana Sultan Mehmed II hendak membawa pasukannya. Ada yang mengatakan beliau hendak menuju Italia untuk menaklukkan Romawi sesuai dengan strategi yang telah ia susun. Ada juga yang mengatakan menuju Prancis atau Spanyol. Sebelum wafat, Mehmed mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan. - © Inspirasea.com.
Referensi
- Theottomans.com - Mehmet II
- Britannica.com - Mehmed II, Ottoman Sultan
- Wikipedia - Mehmed the Conqueror
- Islamstory.com - Sultan Muhammad al-Fatih
- Kisah Mehmed II, Sang Penakluk Dari Ottoman
- Sejarah lengkap Sultan Muhammad al-Fatih
- Biografi Sultan Mehmed II semasa hidupnya
- Penaklukan Konstantinopel oleh Mehmed II
