(Raphael Lacoste - Cernunnos Forest)
Pada abad-abad awal Mitologi Celtic (Kelt) menjadi agama atau kepercayaan utama bangsa celtic. Mitologi Celtic berasal dari bermacam daerah dan suku, antara lain: gallia, britannia, hibernia, hispania, dan masih banyak lagi. Cerita rakyat dan legenda diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita lisan, dan mulai dicatat secara tertulis setelah penaklukan Julius Caesar atas bangsa gaul (Prancis, Belgia, Alpen, dan Italia utara). Caesar mengganti nama dewa-dewa gaul dengan nama khas romawi, sehingga menyebabkan hilangnya nuansa asli keyakinan sebelumnya.
Dikarenakan mitologi celtic kuno hanya dilestarikan secara lisan, sehingga tidak ada hal yang benar-benar dapat dipastikan. Mungkin pengaruh kedatangan agama Kristen juga telah mengubah dan menyimpangkan kepercayaan ini. Jauh dari itu, masyarakat celtic memiliki kepercayaan tersendiri mengenai dewa dewi mereka dan juga penciptaan alam semesta.
Sebelum hitungan waktu ditetapkan
Zaman dahulu kala sebelum hitungan waktu ditetapkan, tidak ada kehidupan di muka bumi ini. Tidak ada satupun manusia bahkan dewa melainkan hanya ada lautan dan daratan. Disaat lautan bertemu dengan daratan, lahirlah seekor kuda putih betina yang tercipta dari busa lautan bernama Eiocha. Di tempat yang sama tumbuh sebatang pohon oak, di pohon itu tumbuh sebuah tanaman yang memiliki biji yang tercipta dari air mata busa lautan. Untuk bertahan hidup Eiocha memakan biji tersebut. Setelah memakannya ia tumbuh membesar, kemudian ia melahirkan seorang dewa bernama Cernunnos. Proses melahirkan Cernunnos sangat menyakitkan bagi Eiocha. Untuk menahan rasa sakitnya, ia merobek kulit pohon oak dan melemparkannya ke laut. Kulit yang dilempar ke laut berubah menjadi monster laut.
Setelah Cernunnos lahir ia merasa kesepian, ia memutuskan untuk kawin dengan Eiocha. Dari perkawinan itu lahirlah dewa Maponos, Tauranis, Teutates dan Epona. Eiocha mulai keletihan dan menua, akhirnya ia kembali ke wujud aslinya dan menjadi dewi laut yang dikenal dengan nama Tethra atau Tethys. Para dewa kesepian karena tidak ada yang bisa mereka perintah dan tidak ada yang mereka sembah. Lalu mereka mengambil kayu dari pohon oak untuk merancang laki-laki dan perempuan pertama di bumi.
Penciptaan dunia oleh para dewa
Para dewa mulai melakukan penciptaan. Cernunnos membuat hewan dari satu pohon oak, hewan-hewan seperti: rusa, anjing, beruang, elang, kuda dan ular. Ia adalah dewa para hewan, dan ia juga memerintahkan pohon oak untuk menyebar dan tumbuh menjadi hutan untuk tempat tinggal anak-anaknya. Epona juga membuat hewan, namun ia hanya membuat kuda untuk mengingat Eiocha. Teutates mengambil ranting sebuah pohon dan merancang busur panah dan gada. Tauranis mengambil salah satu dahan pohon dan membuat petir dari api dan suara, sesekali ia naik ke puncak pohon tertinggi dan melemparkan senjatanya ke tanah untuk menakuti para hewan. Maponos mengambil ranting sebuah pohon dan merancang sebuah harpa, ia merentangkan dawai angin dari ranting itu dan menghabiskan harinya di hutan Cernunnos, angin akan ikut dalam melodinya dan para hewan akan berdatangan untuk mendengar permainannya.
Monster laut melihat para dewa bersenang-senang dengan kehidupan mereka di daratan. Mereka merasa cemburu karena tidak punya sesuatu untuk diperintah dan disembah seperti para dewa. Akhirnya mereka sepakat untuk memerangi para dewa. Mereka berencana membanjiri daratan dan menenggelamkannya. Namun Tethra mendengarkan rencana mereka melalui gelombang ombak. Seketika, ia mengingat kembali jika dulunya ia adalah Eiocha. Ia langsung memperingatkan anak-anaknya untuk bersiap menghadapi para monster laut.
Monster laut melihat para dewa bersenang-senang dengan kehidupan mereka di daratan. Mereka merasa cemburu karena tidak punya sesuatu untuk diperintah dan disembah seperti para dewa. Akhirnya mereka sepakat untuk memerangi para dewa. Mereka berencana membanjiri daratan dan menenggelamkannya. Namun Tethra mendengarkan rencana mereka melalui gelombang ombak. Seketika, ia mengingat kembali jika dulunya ia adalah Eiocha. Ia langsung memperingatkan anak-anaknya untuk bersiap menghadapi para monster laut.
Perang dewa melawan monster laut
Para dewa mengungsi ke sebuah pohon oak yang sangat besar. Mereka semua bekerja sama melawan para monster laut. Untuk mencegah banjir yang akan menenggelamkan daratan, Tauranis melempar petirnya dan membelah daratan agar air laut melewati celah itu. Maponos memecahkan langit dan menjatuhkannya untuk menyerang para monster. Teitates menyerang para monster dengan panah dari ranting pohon. Para monster bukan tanpa senjata, mereka punya kekuatan gelombang. Para dewa berhasil mengepung para monster tapi tidak bisa memusnahkan seluruhnya. Tethra membawa monster-monster yang tersisa untuk dikurung di dasar laut, namun beberapa dari mereka berhasil kabur. Mereka yang kabur ini menamai diri mereka Fomor. Kawanan Fomor membangun kehidupan di ujung bumi, dan suatu saat mereka akan kembali untuk membalas dendam dan menguasai dunia para dewa.
Laut kembali surut dan Maponos memperbaiki langit. Di saat-saat kemenangan Epona tidak terlihat, lalu para dewa bergegas mencarinya. Ternyata Epona berada di dalam kegelapan hutan Cernunnos. Ia telah menyelamatkan seorang laki-laki dan seorang perempuan dari banjir dan kehancuran yang disebabkan para monster laut. Sepasang manusia yang diselamatkan Epona inilah yang menjadi nenek moyang manusia yang ada di bumi sekarang. Para dewa meninggalkan kegelapan hutan Cernunnos dan kembali ke rumah mereka. Mereka kembali ke sebuah pohon Oak yang masih tegak berdiri, dan berry suci yang masih putih seputih buih lautan.
Saat maponos memperbaiki langit, ia membuang beberapa bagian langit yang rusak ke laut. Bagian-bagian tersebut berubah menjadi dewa-dewa baru. Dewa Belenus dan saudarinya Danu muncul dari api langit. Dewa Lir lahir dari air laut yang hampir terbakar. Dewa Lir, melahirkan sang hebat Manannan, sang cantik Branwen dan sang bijak Bran. Dewa Danu melahirkan Dagda, sang tangan perak Nuadha, sang bijak Dienceght, sang pandai besi Goihbhio, sang pemberani Morrigan dan sang lembut Brighid. Anak-anak Danu dan anak-anak Lir adalah dua ras raksasa yang pernah ada di dunia para dewa. - © Inspirasea.com.
Laut kembali surut dan Maponos memperbaiki langit. Di saat-saat kemenangan Epona tidak terlihat, lalu para dewa bergegas mencarinya. Ternyata Epona berada di dalam kegelapan hutan Cernunnos. Ia telah menyelamatkan seorang laki-laki dan seorang perempuan dari banjir dan kehancuran yang disebabkan para monster laut. Sepasang manusia yang diselamatkan Epona inilah yang menjadi nenek moyang manusia yang ada di bumi sekarang. Para dewa meninggalkan kegelapan hutan Cernunnos dan kembali ke rumah mereka. Mereka kembali ke sebuah pohon Oak yang masih tegak berdiri, dan berry suci yang masih putih seputih buih lautan.
Saat maponos memperbaiki langit, ia membuang beberapa bagian langit yang rusak ke laut. Bagian-bagian tersebut berubah menjadi dewa-dewa baru. Dewa Belenus dan saudarinya Danu muncul dari api langit. Dewa Lir lahir dari air laut yang hampir terbakar. Dewa Lir, melahirkan sang hebat Manannan, sang cantik Branwen dan sang bijak Bran. Dewa Danu melahirkan Dagda, sang tangan perak Nuadha, sang bijak Dienceght, sang pandai besi Goihbhio, sang pemberani Morrigan dan sang lembut Brighid. Anak-anak Danu dan anak-anak Lir adalah dua ras raksasa yang pernah ada di dunia para dewa. - © Inspirasea.com.
Referensi
Kata Kunci
Kata Kunci
- Terciptanya alam semesta menurut mitologi celtic
- Penciptaan dunia menurut mitologi celtic kuno
- Mitologi Celtic: Awal mula terciptanya dunia

Terima kasih, artikelnya sangat membantu
ReplyDeleteTerima kasih sudah mampir pak
Delete